
Aten Warus, Herman PG, Jajang PW, Jonhi Hartono, Agus Taman, Hsarifudin, Yoyo Sofyan, Zulkarnaen, jojo kurniawan, Pian Sopian, Darul Efendi, Afrudin, Cucuk Supriadi, Zenal Mutakin, Hade Supriadi, Anang Rusmana, Ahmad Taufik, Ahri, Aat Supriatna, Yayu . DALAM Pameran Lukisan naratas jalan, 9 - 31 Januari 2009 Mayasari Plaza Tasikmalaya.Catatan awal tahun, hepy New Year
Tet,tet,tet,tot...Suara klakson motor...... malam sudah masuk ke gelapan. Siapa ? Cahaya lampu remang-remang memancar lewat ruas pagar, siapa ?. Aten Warus dan istrinya membawa map meminta tulisan pengantar pameran. Aga sulit membaca karya-karya ini terutama tidak ada catatan tahun pembuatan dari sebagaian yang dipamerkan.
Baiklah saya coba pada karya Jajang Purwanata Judul Global Worning III cat minyak di atas kanvas ukuran 145X135 Cm.2008 dengan warna mencolok orange, pohon-pohon kelihatan kepanasan dan zigma, cat minyak di atas kanvas, ukuran 130x120 cm. 2009. Orientasi mencari karakter pribadi sangat kuat, begitu juga herman P.G perenungan tujuh belasan yang setiap tahun dirayakan Bangsa Indonesia yaitu 17 Agustus 1945 tentang peringatan kemerdekaan RI dengan menggunakan cat air di atas kertas cukup berani. Pada Darul Efendi, sirip pada cat minyak di atas kanvas. Surelis atau semi surealis yang penuh dengan keraguan dan harap cemas. Adapun Aten Warus, mengangkat isu sosial pada lingkungan sidoarjo artifak, Jakarta Artifak, Mount Artifak, Fauna Artifak dengan media acrilik, sketsanya lebih kuat dari mewarnai. Yoyo Sofyan lukisannya mengingatkan pada pelukis Wolter Spies di Bali punya kemampuan artistik warna biru lebih dominan, Djoni Hartono realismenya kuat, sayang tidak terus berlanjut seperti Agus Burhan dan Alex Lutfi satu angkatannya di Jogya.
Saya tidak habis pikir, kenapa tidak melukiskan partai-partai politik ? yang sekarang sedang ramai jual beli?. Saya mengharapkan bangsa ini jangan dituduh bangsa kerja yang asal-asalan, pelukis tidak harus memaksakan untuk pameran, tapi pelukis berusaha untuk menjual karya-karyanya. Sebuah pameran hanya satu jembatan untuk bertemu dengan banyak orang, kritikus, kurator, kolektor dan masyarakat luas. Apresiasi terjadi berharap jual beli pun terjadi.
Bom senu lukis ke IV sudah lewat dibulan september 2008 tahun yang baru lalu orang kaya di jakarta sudah hati-hati mengeluarkan uang jajannya. Tapi dengan adanya pameran ini membuka peluang lagi untuk apresiasi seni lukis tingkat daerah. Mungkin sudah waktunya pemerintah daerah memikirkan untuk memiliki sebuah museum dan menyimpan karya karya-karya seni lukis terbaik dari anak daerahnya serta menyimpan untuk mendokumtasikan benda budaya ini, seni lukis Tasikmalaya. Semoga dengan adanya pameran ini menjadi petunjuk jalan untuk berfikir ke hari yang akan datang kemudian dan lebih kreatif...! Yaitu memiliki museum seni lukis Tasikmalaya atau museum seni rupa Tasikmalaya untuk apresiasi dan tujuan wisata daerah. Saya berharap pemerintah memikirkannya kemudian, karena benda budaya ini menjadi catatan zamannya. Selamat berpameran.
Iwan Koeswana.
8 Januari 2009

Tidak ada komentar:
Posting Komentar